Ibu Jangan Tinggalkan Aku
Di sebuah rumah sederhana di pinggir kota, hidup seorang ibu bernama Siti yang sakit parah. Dia punya dua anak: Rian, cowok remaja berusia 16 tahun yang selalu ceria, dan Maya, cewek kecil 10 tahun yang manja. Mereka tinggal bersama dua tetangga dekat: Tante Lina, perempuan 40 tahun yang seperti kakak bagi Siti, dan Pak Budi, tetangga laki-laki 50 tahun yang sering bantu urusan rumah. Ada juga Sari, adik ipar Siti yang datang dari kampung, perempuan 30 tahun yang penuh kasih sayang.
Suatu sore, Siti terbaring lemah di tempat tidur. Tubuhnya kurus, wajahnya pucat karena penyakit yang sudah lama dideritanya. Rian duduk di samping, memegang tangan ibunya erat. "Bu, minum obatnya dulu ya," katanya lembut, suaranya bergetar. Maya meringkuk di kaki ranjang, matanya merah karena menangis seharian. "Ibu, jangan sakit lagi. Aku mau Ibu ceritain dongeng setiap malam," rengeknya, suaranya parau.
Tante Lina masuk membawa sup hangat. "Siti, kamu harus kuat. Anak-anak butuh kamu," katanya sambil menyeka air mata. Pak Budi berdiri di pintu, tangannya gemetar memegang obat. "Kita sudah hubungi dokter lagi besok. Sabar ya," gumamnya, mencoba tegar meski hatinya pilu. Sari duduk di kursi, memeluk foto keluarga lama. "Kak, ingat waktu kita kecil dulu? Kamu selalu jagain aku. Sekarang giliran aku jagain kamu," bisiknya, air mata menetes.
Malam itu, hujan deras mengguyur. Siti membuka mata pelan, memanggil anak-anaknya. Rian dan Maya mendekat, wajah mereka penuh harap. "Anak-anakku... Ibu sayang kalian. Jangan sedih kalau Ibu pergi. Kalian harus saling jaga, ya? Belajar yang rajin, dan ingat Ibu selalu di hati." Suaranya lemah, tapi penuh cinta. Maya menangis tersedu, "Ibu, jangan tinggalkan aku! Aku takut sendirian!" Rian memeluk adiknya, air matanya jatuh. "Bu, kami janji. Tapi tolong sembuh..."
Tante Lina dan Sari menangis diam-diam, Pak Budi menunduk. Siti tersenyum tipis, lalu matanya terpejam pelan. Ruangan hening, hanya suara hujan dan isak tangis. Rian memeluk Maya erat, "Kita kuat, Dek. Ibu pasti bangga." Mereka semua berpegangan tangan, merasakan kehilangan yang dalam. Sejak itu, rumah terasa sepi, tapi kenangan Siti menyatukan mereka selamanya. Cinta ibu tak pernah benar-benar pergi.
Komentar
Posting Komentar