kuntilanak di kelas
malam itu, hujan deras mengguyur sekolah tua di pinggir hutan. Empat sahabat SMA, Andi, Budi, Sari, dan Rina, nekat tinggal lebih lama untuk belajar kelompok. Andi, cowok tinggi kurus yang suka bercanda, duduk di depan. Budi, temannya yang pemalu, sibuk mencatat. Sari, cewek berhijab ramah, membagikan camilan. Rina, yang paling berani, memimpin diskusi soal ujian besok.
"Kalian dengar nggak suara aneh?" tanya Rina tiba-tiba. Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Kelas 3A itu gelap, hanya diterangi lampu neon yang berkedip-kedip. Mereka menggeleng. Tapi Andi tertawa, "Mungkin hantu guru yang marah kita telat pulang!"
Mereka lanjut belajar, tapi angin dingin mulai berhembus dari jendela terbuka. Sari merinding. "Tutup aja jendelanya," katanya pelan. Saat Budi bangun, tiba-tiba terdengar tangisan samar dari koridor. "Ibu... ibu..." suaranya seperti perempuan menangis, tapi terputus-putus.
"Siapa itu?" bisik Sari, wajahnya pucat. Mereka saling pandang. Rina, penasaran, bangun dan mengintip ke pintu. "Kosong. Mungkin angin." Tapi saat dia kembali duduk, kursi di belakang mereka bergoyang sendiri. Andi menoleh. "Eh, ada bayangan!"
Bayangan itu panjang, seperti perempuan berbaju putih panjang, rambut hitam panjang menjuntai. Matanya merah menyala, dan mulutnya terbuka lebar tanpa suara. "Kuntilanak!" jerit Budi, yang biasanya pendiam. Mereka panik. Sari memeluk buku tebal sebagai pelindung. Rina berusaha tenang, "Jangan takut, mungkin halusinasi karena capek."
Tapi kuntilanak itu mendekat. Bau amis amis seperti mayat membusuk memenuhi ruangan. Andi melempar penghapus ke arahnya, tapi hantunya tertawa nyaring, suara melengking menusuk telinga. "Kalian... tinggalkan... kelasku..." bisiknya, suaranya seperti angin ribut.
Budi ingat cerita lama sekolah ini. Dulu ada guru hamil yang bunuh diri di kelas ini karena dikhianati suaminya. Jiwanya jadi kuntilanak, haus dendam. "Kita harus kabur!" teriaknya. Mereka berlari ke pintu, tapi pintu terkunci rapat. Kuntilanak melayang mendekat, tangannya yang panjang hampir menyentuh bahu Sari.
Rina tiba-tiba ingat doa yang diajarkan ibunya. Mereka bergandengan tangan, berdoa keras-keras. "Ya Tuhan, lindungi kami!" Angin kencang berputar, kuntilanak menjerit kesakitan. Tubuhnya berasap, lalu menghilang ke kegelapan.
Pintu terbuka sendiri. Mereka lari keluar, hujan masih deras. Sampai di gerbang, mereka berhenti, napas ngos-ngosan. "Itu... beneran?" tanya Andi gemetar. Sari mengangguk, "Jangan pernah tinggal malam lagi di sekolah."
Sejak itu, keempatnya selalu pulang sebelum maghrib. Tapi kadang, di kelas 3A, tangisan samar masih terdengar. Siapa tahu, kuntilanak itu menunggu korban berikutnya...

psti kuntilanaknya bendahara kelass
BalasHapusMungkin seperti itu
HapusSerem
BalasHapusauueeee takuttt
HapusDak mauka pae pergi sekolah deehh ada Kunti🗿
BalasHapusMengerikan bgt
BalasHapuslangsung koma'
BalasHapus